Tanah adalah tempat tumbuhnya tanaman serta tempat pendukung bagi kehidupan hewan dan manusia yang merupakan lapisan yang menyeliputi bumi antara litosfer (batuan yang membentuk kerak bumi) dan atmosfer. Sedangkan Ilmu Tanah adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk tanah (Haryanto, 2011). Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan tanaman dan organisme, membentuk tubuh unik yang menyelaputi lapisan batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon tanah.
Fungsi Tanah
- Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran.
- Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)
- Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara).
- Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman (Madjid, 2008)
Komponen Tanah
- Bahan Padatan berupa bahan mineral.
- Bahan Padatan berupa bahan organik.
- Air.
- Udara.(Madjid, 2008)
![]() |
| Kompone Bahan Penyusun Tanah |
Sifat Fisik dan Morfologi Tanah
Sifat morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang
dapat diamati dan dipelajari di lapang. Sebagian dari sifat-sifat
morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tabah tersebut.
Profil tanah
Profil tanah merupakan penampang melintang tanah atau
irisan tegak lurus ke bawah dari permukaan tanah yang menampakkan
lapisan-lapisan tanah (horison).
Horizon adalah lapisan tanah yang kurang lebih sejajar
dengan permukaan bumi dan mempunyai ciri-ciri tertentu.
Solum: tanah yang berkembang secara genetis; merupakan
lapisan tanah mineral dari atas sampai sedikit dibawah batas atas horizon C
(terdiri dari horizon O-A-E-B).
Lapisan tanah atas: lapisan tanah yang subur karena
mengandung banyak bahan organik (terdiri dari horizon O-A).
Lapisan tanah bawah: lapisan di bawah solum (terdiri
dari horizon C-R).
![]() |
| Horizon Tanah |
Keterangan:
Horizon O
|
Lapisan atas, lapisan olah, lapisan humus.
Lapisan teratas suatu penampang tanah, yang biasanya
banyak mengandung Bahan Organik (BO) sebagai hasil dekomposisi seresah
sehingga warnanya gelap.
Merupakan lapisan utama
|
Horizon A
|
Horison mineral ber BOT sehingga berwarna agak gelap
|
Horizon E
|
Horison mineral yang telah tereluviasi (tercuci)
sehingga kadar (BOT, liat silikat, F dan Al rendah) tetapi pasir dan debu
kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi, berwarna terang
|
Horizon B
|
Horrison Illuvial atau horison tempat
terakumulasinya bahan-bahan yang tercuci dari horison diatasnya (akumulasi
bahan eluvial)
Ketebalan lapisan > horizon A
Horizon B dibagi menjadi beberapa sub lapisan:
- Sub lapisan B1: daerah peralihan horizon
(warna agak gelap)
- Sub lapisan B2: daerah kandungan kapur tinggi
(warna terang)
- Sub lapisan B3: daerah penimbunan unsure Fe missal
Fe2O3 (warna merah)
|
Horizon C
|
Horizon C atau lapisan batuan induk merupakan hasil
pelapukan dan penghancuran oleh iklim terhadap batuan induk yang berlangsung
lama.
Sifatnya mirip batuan induk.
|
Horizon R (bedrock)
|
Merupakan dasar tanah yang terdiri dari batuan yang
sangat pejal dan belum mengalami pelapukan.
|
Kegunaan profil tanah :
- Untuk mengetahui kedalaman lapisan olah (Lapisan Tanah Atas = O-A) dan solum(O-A-E-B).
- Untuk mengetahui kelengkapan atau differensiasi horison pada profil
- Untuk mengetahu warna tanah (Hardjowigeno, 1987).
Warna tanah
Warna tanah merupakan ciri utama yang paling mudah
untuk mendeterminasi tanah.
Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa warna tanah
berfungsi sebagai penunjuk dari sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi
oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan
warna permukaan tanah umumnya dipengaruhi oleh perbedaan kandungan bahan
organik. Makin tinggi kandungan bahan organik, warna tanah makin gelap.
Sedangkan dilapisan bawah, dimana kandungan bahan organik umumnya rendah, warna
tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah.
Di daerah berdrainase buruk, yaitu di daerah yang
selalu tergenang air, seluruh tanah berwarna abu-abu karena senyawa Fe terdapat
dalam kondisi reduksi (Fe2+). Pada tanah yang berdrainase baik, yaitu tanah
yang tidak pernah terendam air, Fe terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe3+)
misalnya dalam senyawa Fe2O3 (hematit) yang berwarna merah, atau Fe2O3. 3 H2O
(limonit) yang berwarna kuning cokelat. Sedangkan pada tanah yang kadang-kadang
basah dan kadang-kadang kering, maka selain berwarna abu-abu (daerah yang
tereduksi) didapat pula becak-becak karatan merah atau kuning,yaitu di
tempat-tempat dimana udara dapat masuk, sehingga terjadi oksidasi besi ditempat
tersebut. Keberadaan jenis mineral kwarsa dapat menyebabkan warna tanah menjadi
lebih terang.
Warna tanah ditentukan dengan membandingkan warna
tanah tersebut dengan
warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. Diagram warna baku ini disusun tiga variabel, yaitu: (1) hue, (2) value, dan (3) chroma
warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. Diagram warna baku ini disusun tiga variabel, yaitu: (1) hue, (2) value, dan (3) chroma
- Hue adalah warna spectrum yang dominan sesuai dengan panjang gelombangnya.
- Value menunjukkan gelap terangnya warna, sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan.
- Chroma
menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum. Chroma didefiniskan juga sebagai gradasi kemurnian dari warna atau derajat pembeda adanya perubahan warna dari kelabu atau putih netral (0) ke warna lainnya (19).
Berdasarkan buku Munsell Saoil Color Chart
- Nilai
Hue dibedakan menjadi: (1) 5 R; (2) 7,5 R; (3) 10 R; (4) 2,5 YR; (5) 5 YR;
(6) 7,5 YR; (7) 10 YR; (8) 2,5 Y; dan (9) 5 Y,
yaitu mulai dari spektrum dominan paling merah (5 R) sampai spektrum dominan paling kuning (5 Y), selain itu juga sering ditambah untuk warna-warna tanah tereduksi (gley) yaitu: (10) 5 G; (11) 5 GY; (12) 5 BG; dan (13) N (netral). - Value dibedakan dari 0 sampai 8, yaitu makin tinggi value menunjukkan warna makin terang (makin banyak sinar yang dipantulkan). Nilai Value pada lembar buku Munsell Soil Color Chart terbentang secara vertikal dari bawah ke atas dengan urutan nilai 2; 3; 4; 5; 6; 7; dan 8. Angka 2 paling gelap dan angka 8 paling terang.
- Chroma
juga dibagi dari 0 sampai 8, dimana makin tinggi chroma menunjukkan
kemurnian spektrum atau kekuatan warna spektrum makin meningkat. Nilai
chroma pada lembar buku Munsell Soil Color Chart dengan rentang horisontal
dari kiri ke kanan dengan urutan nilai chroma: 1; 2; 3; 4; 6; 8. Angka 1
warna tidak murni dan angka 8 warna spektrum paling murni
(Hardjowigeno, 1987).
Tekstur tanah
Tekstur tanah merupakan sifat menggambarkan kasar
halusnya tanah dalam perabaan yang ditentukan oleh perbandingan berat
fraksi-fraksi penyusunnya. Suatu fraksi yang dominan pada suatu tanah akan
menentukan ciri dan jenis yang bersangkutan.
Tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan
yang kecil sehingga sulit menyimpan atau menyerap air dan unsur hara. Tanah
yang bertekstur lempung atau liat mempunyai luas permukaan yang besar sehingga
kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara sangat tinggi. Tekstur tanah
ringan yaitu tanah yang didominasi fraksi pasiran lebih mudah diolah
dibandingkan dengan tekstur berat yang didominasi fraksi lempung.
Bahan- bahan tanah meliputi:
-
Pasir : 2mm – 50 u
-
Debu : 50u – 2u
-
Liat : < 2u
-
Lebih dari 2mm disebut bahan kasar (kerikil sampai batu)
Tekstur tanah dapat digolongkan :
- Apabila terasa kasar, berarti pasir, pasir berlempung
- Apabila terasa agak kasar, berarti lempung berpasir, lempung berpasir halus
- Apabila terasa sedang, berari lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu, debu
- Agak halus, berarti lempung liat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu
- Halus, berari liat berpasir, liat berdebu, liat
![]() |
| Tekstur Tanah |
Di lapangan tekstur tanah dapat ditentukan dengan
memijit tanah basah di antara jari-jari, sambil dirasakan halus kasarnya
yaitu dirasakan adanya butir-butir pasir debu dan liat, sebagai berikut:
Pasir:
Rasa kasar sangat jelas
Tidak melekat
Tidak dapat dibentuk bola dan gulungan
|
Lempung:
Rasa tidak kasar dan tidak licin
Agak melekat
Dapat dibentuk bola agak teguh, dapat sedikit
dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat
|
Pasir berlempung:
Rasa kasar jelas
Sedikit sekali melekat
Dapat dibentuk bola, mudah hancur
|
Lempung berdebu:
Rasa licin
Agak melekat
Dapat dibentuk bola agak teguh, gulungan
dengan permukaan mengkilat
|
Lempung berpasir:
Rasa kasar agak jelas
Agak melekat
Dappat dibuat bola, mudah hancur
|
Lempung berliat:
Rasa agak licin
Agak melekat
Dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan yang agak mudah
hancur
|
Debu:
Rasa licin sekali
Agak melekat
Dapat dibentuk bola teguh, dapat dibentuk
gulungan dengan permukaan membulat
|
Lempung liat berpasir:
Rasa halus dengan sedikit bagian agak kasar
Agak melekat
Dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan mudah hancur
|
Liat berpasir:
Rasa halus, berat tetapi tersa sedikit kasar
Melekat
Dapat dibentuk bola teguh, mudah di gulung
|
Lempung liat berdebu:
Rasa halus agak licin
Melekat
Dapat dibentuk bola teguh, gulungan mengkilat
|
Liat:
Rasa berat, halus
Sangat lekat
Dapat dibentuk bola dengan baik, mudah
digulung
|
Liat berdebu:
Rasa halus, berat, agak licin
Sangat lekat
Dapat dibentuk bola teguh, mudah di gulung
|
Struktur tanah
Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang
menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu
dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis.
Struktur ini terjadi karena butir-butir pasir, debu
dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik,
oksida-oksida besi dan lain-lain.
Ruang kosong yang besar antara agregat (makropori)
membentuk sirkulasi air dan udara juga akar tanaman untuk tumbuh ke bawah pada
tanah yang lebih dalam. Sedangkan ruangan kosong yang kecil ( mikropori)
memegang air untuk kebutuhan tanaman. Idealnya bahwa struktur disebut granular.
Pengaruh struktur dan tekstur tanah terhadap
pertumbuhan tanaman terjadi secara langsung. Struktur tanah yang remah (ringan)
pada umumnya menghasilkan laju pertumbuhan tanaman pakan dan produksi persatuan
waktu yang lebih tinggi dibandingkan dengan struktur tanah yang padat.
Faktor yang mempengaruhi pembentukan agregat:
1. Bahan Induk
Variasi penyusun tanah tersebut mempengaruhi
pembentukan agregat-agregat tanah serta kemantapan yang terbentuk. Kandungan
liat menentukan dalam pembentukan agregat, karena liat berfungsi sebagai
pengikat yang diabsorbsi pada permukaan butiran pasir dan setelah dihidrasi
tingkat reversiblenya sangat lambat. Kandungan liat > 30% akan berpengaruh
terhadap agregasi, sedangakan kandungan liat < 30% tidak berpengaruh terhadap
agregasi.
2. Bahan organik tanah
Bahan organik tanah merupakan bahan pengikat setelah
mengalami pencucian. Pencucian tersebut dipercepat dengan adanya organisme
tanah. Sehingga bahan organik dan organisme di dalam tanah saling berhubungan
erat.
3. Tanaman
Tanaman pada suatu wilayah dapat membantu pembentukan
agregat yang mantap. Akar tanaman dapat menembus tanah dan membentuk
celah-celah. Disamping itu dengan adanya tekanan akar, maka butir-butir tanah
semakin melekat dan padat. Selain itu celah-celah tersebut dapat terbentuk dari
air yang diserp oleh tnaman tesebut.
4. Organisme tanah
Organisme tanah dapat mempercepat terbentuknya
agregat. Selain itu juga mampu berperan langsung dengan membuat lubang dan
menggemburkna tanaman.Secara tidak langsung merombak sisa-sisa tanaman yang
setelah dipergunakan akan dikeluarlan lagi menjadi bahan pengikat tanah.
5. Waktu
Waktu menentukan semua faktor pembentuk tanah
berjalan. Semakin lama waktu berjalan, maka agregat yang terbentuk pada tanah
tersebut semakin mantap.
6. Iklim
6. Iklim
Iklim berpengaruh terhadap proses pengeringan,
pembasahan, pembekuan, pencairan. Iklim merupakan faktor yang sangat
berpengaruh terhadap pembentukan agregat tanah.
Macam macam struktur tanah
- Struktu tanah berbutir (granular): Agregat yang membulat, biasanya diameternya tidak lebih dari 2 cm. Umumnya terdapat pada horizon A yang dalam keadaan lepas disebut “Crumbs” atau Spherical.
- Kubus (Bloky): Berbentuk jika sumber horizontal sama dengan sumbu vertikal. Jika sudutnya tajam disebut kubus (angular blocky) dan jika sudutnya membulat maka disebut kubus membulat (sub angular blocky). Ukuranya dapat mencapai 10 cm.
- Lempeng (platy): Bentuknya sumbu horizontal lebih panjang dari sumbu vertikalnya. Biasanya terjadi pada tanah liat yang baru terjadi secara deposisi (deposited).
- Prisma: Bentuknya jika sumbu vertikal lebih panjang dari pada sumbu horizontal. Jadi agregat terarah pada sumbu vertikal. Seringkali mempunyai 6 sisi dan diameternya mencapai 16 cm. Banyak terdapat pada horizon B tanah berliat. Jika bentuk puncaknya datar disebut prismatik dan membulat disebut kolumner.
Tanah dengan struktur baik (granuler, remah) mempunyai
tata udara yang baik, unsur-unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah.
Struktur tanah yang baik adalah yang bentuknya membulat sehingga tidak dapat
saling bersinggungan dengan rapat. Akibatnya pori-pori tanah banyak terbentuk.
Di samping itu struktur tanah harus tidak mudah rusak (mantap) sehingga
pori-pori tanah tidak cepat tertutup bila terjadi hujan
(Hardjowigeno, 1987).
(Hardjowigeno, 1987).
Konsistensi tanah
Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara
kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah
dengan benda lain.
Keadaan tersebut ditunjukkan dari daya tahan tanah
terhadap gaya yang akan mengubah bentuk. Gaya yang akan mengubah bentuk
tersebut misalnya pencangkulan, pembajakan, dan penggaruan.
Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa tanah-tanah yang
mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat
pengolah tanah. Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi,
yaitu: basah, lembab, dan kering. Konsistensi basah merupakan penetapan
konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field
cappacity).
Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi
tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering
merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering
udara.
Pada kondisi basah, konsistensi tanah dibedakan
berdasarkan tingkat plastisitas dan tingkat kelekatan.
Pada kondisi lembab, konsistensi tanah dibedakan ke
dalam tingkat kegemburan sampai dengan tingkat keteguhannya
Pada kondisi kering, konsistensi tanah dibedakan
berdasarkan tingkat kekerasan tanah.
Secara lebih terinci cara penentuan konsistensi tanah
dapat dilakukan sebagai berikut:
(I) Konsistensi Basah
1.1 Tingkat Kelekatan, yaitu menyatakan tingkat kekuatan
daya adhesi antara butir-butir tanah dengan benda lain, ini dibagi 4 kategori:
- Tidak Lekat (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak melekat pada jari tangan atau benda lain.
- Agak Lekat (Nilai 1): yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain.
- Lekat (Nilai 2): yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain.
- Sangat Lekat (Nilai 3): yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain.
1.2 Tingkat Plastisitas, yaitu menunjukkan kemampuan tanah
membentuk gulungan, ini dibagi 4 kategori berikut:
- Tidak Plastis (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah.
- Agak Plastis (Nilai 1): yaitu dicirikan hanya dapat dibentuk gulungan tanah kurang dari 1 cm.
- Plastis (Nilai 2): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut.
- Sangat Plastis (Nilai 3): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan tekanan besar untuk merusak gulungan tersebut.
(II) Konsistensi Lembab
Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang,
konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut:
- Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir).
- Sangat Gembur (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas.
- Gembur (Nilai 2): yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah.
- Teguh / Kokoh (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah.
- Sangat Teguh / Sangat Kokoh (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkali-kali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut.
- Sangat Teguh Sekali / Luar Biasa Kokoh (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut
(III) Konsistensi Kering
Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air
tanah kering udara, ini dibagi 6 kategori sebagai berikut:
- Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur pasir).
- Lunak (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh, sehingga jika ditekan sedikit saja akan mudah hancur.
- Agar Keras (Nilai 2): yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah.
- Keras (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan makin susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah.
- Sangat Keras (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur.
- Sangat Keras Sekali / Luar Biasa Keras (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunakan alat bantu (pemukul).
Beberapa faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah
adalah: (1) tekstur tanah, (2) sifat dan jumlah koloid organik dan anorganik
tanah, (3) sruktur tanah, dan (4) kadar air tanah
(Hardjowigeno, 1987).
(Hardjowigeno, 1987).
Drainase tanah
Drainase Tanah: adalah lamanya kondisi
tergenang / jenuh air, bukan merupakan ukuran berapa cepat air terbuang dari
tanah air dapat hilang melalui permukaan tanah maupun melalui peresapan ke
dalam tanah. Berdasarkan atas klas drainasenya, tanah dibedakan menjadi klas
drainase terhambat(tergenang) sampai sangat cepat (air sangat cepat hilang dari
tanah).
Klas drainase ditentukan di lapang dengan melihat
adanya gejala-gejala pengaruh air dalam penampang tanah. Gejala-gejala tersebut
antara lain adalah warna pucat, kelabu, atau adanya becak-becak karatan. Warna
pucat atau kelabu kebiru-biruan menunjukkan adanya pengaruh genangan air yang
kuat, sehingga merupakan petunjuk adanya tanah berdrainase buruk. Adanya
karatan menunjukkan bahwa udara masih dapat masuk ke dalam tanah
setempat-setempat sehingga terjadi oksidasi di tempat tersebut dan terbentuk
senyawa- senyawa Fe+++ yang berwarna merah. Bila air tidak pernah
menggenang sehingga tata udara dalam tanah selalu baik, maka seluruh profil
tanah dalam keadaan oksidasi (Fe+++). Oleh karena itu seluruh tanah
umumnya berwarna merah atau cokelat.
Keadaan drainase tanah menentukan jenis tanaman yang
dapat tumbuh. Sebagai contoh, padi dapat hidup pada tanah-tanah dengan drainase
buruk, tatapi jagung, karet, cengkeh, kopi dan lain-lain tidak akan dapat
tumbuh dengan baik kalau tanah selalu tergenang air (Hardjowigeno, 1987).
Pori-pori tanah
Pori-pori tanah adalah bagian yang tidak terisi bahan
padat tanah (terisi oleh udara dan air). Pori-pori tanah dapat dibedakan
menjadi pori-pori kasar (macro pore) dan pori-pori halus (micro pore).
Pori-pori kasar berisi udara atau air gravitasi (air yang mudah hilang karena
gaya gravitasi), sedang pori-pori halus berisi air kapiler atau udara. Tanah-
tanah pasir mempunyai pori-pori kasar lebih banyak daripada tanah liat. Tanah
dengan banyak pori-pori kasar sulit menahan air sehingga tanaman mudah kekeringan.
Porositas tanah dipengaruhi:
- Kandungan bahan organic
- Struktur tanah
- Tekstur tanah
Porositas tanah tinggi kalau bahan organik tinggi,
tanah-tanah dengan struktur granuler ataau remah, mempunyai porositas
yang lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan struktur massive (pejal). Tanah
dengan tekstur pasir banyak mempunyai pori-pori makro sehingga sulit untuk
menahan air (Hardjowigeno, 1987).
Sifat-sifat lain
Untuk dapat menentukan kesesuaian tanah bagi
bermacam-macam penggunaan maka disamping sifat-sifat tanah yang telah diuraikan
di muka, perlu diamati pula sifat-sifat tanah lain serta keadaan lingkungannya,
misalnya:
1. Keadaan batuan
Terdapatnya batu-batu baik di permukaan tanah maupun
di dalam tanah dapat mengganggu perakaran tanaman serta mengurangi kemampuan
tanah untuk berbagai penggunaan. Karena itu jumlah dan ukuran batuan yang di
temukan perlu dicatat dengan baik.
2. Padas(pan)
Padas merupakan bagian tanah yang mengeras dan padat
sehingga tidak dapat ditembus akar tanaman ataupun air. Karena itu dalam
penyifatan tanah di lapang dalamnya padas dan kekerasannya perlu diteliti.
3. Kedalaman efektif
Kedalaman efektif adalah kedalaman tanah yang masih
dapat ditembus akar tanaman. Pengamatan kedalaman efektif dilakukan dengan
mengamati penyebaran akar tanaman. Banyaknya perakaran, baik akar halus maupun
akar kasar, serta dalamnya akar-akar tersebut dapat menembus tanah perlu
diamati dengan baik.
4. Lereng
Keadaan lingkungan di luar solum tanah yang sangat
besar pengaruhnya terhadap kesesuaian tanah (lahan) untuk berbagai penggunaan
adalah lereng. Makin curam lereng kesesuaian lahan makin berkurang. Pada
umumnya dianggap bahwa kemiringan lereng yang lebih dari 30% tidak cocok lagi
untuk tanaman pangan. Lereng dapat berbentuk cembung, cekung atau rata dengan
panjang yang berbeda (Hardjowigeno, 1987).
DAFTAR PUSTAKA
Yanto. Haryanto. 2011. Seluk Beluk Tanah. (http://www.scribd.com/doc/49836119/Ilmu-tanah-adalah-ilmu-yang-mempelajari-seluk-beluk-tanah)Madjid, Abdul. 2008. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jurusan Tanah, Fak. Pertanian, Univ. Sriwijaya. Kampus Unsri Indralaya, Propinsi Sumatera Selatan
Hardjowigeno, Sarwono. 1987. Ilmu tanah.
Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa.
untuk lebih lengkap nya dapat dilihat di SIFAT FISIK DAN MORFOLOGI TANAH


Tidak ada komentar:
Posting Komentar